Sahabat kaula muda, bagaimana dengan pekerjaanmu apakah baik-baik saja? Pekerjaan emang sulit di cari, lebih sulit lagi mempertahankan pekerjaan itu sendiri. Berbagai macam cara orang mempertahankan pekerjaan diantaranya melakukan aktualisasi totalitas terhadap pekerjaannya.
Mereka yang bekerja dengan totalitas, bukan hanya sekadar mendapatkan penghasilan dari pekerjaannya tetapi juga sebagai bentuk aktualisasi diri. Fokusnya hanya berkutat pada persoalan pekerjaan sehingga membuat mereka tidak bisa keluar dari zona pikiran-pikiran yang diliputi pekerjaan.
Orang yang gila pada pekerjaan bahkan sampai mengesampingkan aspek kehidupan lainnya disebut sebagai workaholic, dan yang demikian itu dapat berimbas negatif bagi kesehatan mental, fisik dan sosialnya. Lebih lanjut lagi akan kita ulas berikut ini.
Apa itu Workaholic?
Istilah workaholic merupakan istilah yang dinisbatkan kepada mereka yang memiliki obsesi terhadap pekerjaan yang awalnya berupa dorongan dan keterpaksaan yang kemudian menjadi sebuah kebiasaan sehingga tidak dapat terlepas dari aktivitas tersebut.
Workaholic adalah kondisi seseorang dimana menempatkan pekerjaan diatas segalanya dan mengesampingkan berbagai aspek kehidupan lainnya.
Mereka yang workaholic biasanya diakibatkan oleh kondisi finansial dan kebutuhan yang lebih besar, ambisi terhadap jenjang karier, melupakan hal-hal yang membuat galau atau memang tuntutan pekerjaan dari atasan sehingga harus mengerjakannya semaksimal mungkin.
Workaholic cenderung memiliki sirkulasi kehidupan yang hanya memikirkan pekerjaan, sehingga hal ini menyebabkan dirinya ketergantungan terhadap pekerjaannya. Jika demikian, maka workaholic disebut juga sebagai candu.
Ciri-ciri Workaholic
Berikut adalag beberapa ciri-ciri orang yang workaholic, jika sahabat kaula muda merasakan hal yang sama sadari dan deteksi mulai dari sekarang.
Pekerjaan Diatas Segalanya
Pekerjaan sebagai prioritas adalah salah satu tanda orang workaholic. Kepentingan pekerjaannya lebih utama dari pada kepentingan sendiri. Workaholic dapat menyebabkan kecemburuan sosial karena orang tersebut lebih mementingkan pekerjaan daripada kumpul dengan keluarga, sahabat maupun lingkungan sosial tempat tinggalnya.
Tidak adanya jarak pembatas antara urusan pekerjaan dan urusan rumah sehingga membuat isi kepalanya selalu tentang pekerjaan dan abai dengan segala urusan rumah. Jika sudah demikian orang yang memiliki pemikiran pekerjaan diatas segalanya akan menyebabkan dirinya turut tidak terurus dan berdampak pada kesehatan mental dan fisiknya.
Mereka yang berpikir pekerjaan diatas segalanya perlu mawas diri pasalnya, orang yang demikian bukanlah seorang pekerja keras melain seorang workaholic.
Sibuk Dengan Pekerjaannya Sendiri
Perlu diperhatikan bagaimana orang sibuk itu berperilaku secara wajar. Sayangnya, orang yang workaholic selalu diliputi dengan pekerjaan sepanjang waktu dimana ia akan membicarakan pekerjaan dan memikirkan pekerjaan bahkan diwaktu yang kurang tepat.
Waktu yang seharusnya dinikmati untuk bersantai, bercengkrama dengan keluarga, atau waktu yang harusnya dinikmati bersama teman-teman harus tersita dengan pikiran-pikiran soal pekerjaan. Jadi, seakan-akan ia sibuk dengan pekerjaannya.
Libur Bukanlah Keinginan
Libur adalah waktunya untuk bersantai dan menikmati momen-momen bahagia. Sayangnya, seorang workaholic sangat sulit menikmati hari liburnya meskipun dikerubungi oleh lingkungan yang menyenangkan. Ada perasaan tidak nyaman karena harus berhenti sementara dalam bekerja.
Pikirannya selalu disibukkan dengan pekerjaan. Bahkan ia akan merasa gelisah apabila tidak masuk kerja, karena berpikir pekerjaan akan kacau apabila tanpa kehadirannya. Lebih ekstrim lagi, orang ia percaya bahwa orang lain akan mengambil alih pekerajaannya atau proyek yang sedang dijalankan.
Tidak adanya keinginan untuk libur membuatnya tetap harus bekerja meskipun di luar kantornya, seperti di rumah, hotel, atau tempat liburan. Pikirannya hanya persoalan pekerjaan. Hal yang sama dilakukannya meski dalam keadaan sakit tetap bekerja ke kantor yang justru akan membahayakan dirinya dan lingkungannya.
Tidak Pernah Merasa Puas dengan Pencapaian
Orang yang workaholic akan cenderung tidak puas dengan apa yang dikerjakannya. Dirinya akan selalu berusaha meningkatkan usaha untuk menghasilkan pekerjaan yang lebih baik. Padahal usaha yang demikian sungguh akan sia-sia dan tidak ada gunanya jika tidak mengenali tujuan dan lingkungan sekitarnya.
Dampak Workaholic Bagi Kesehatan
Workaholic akan sangat berdampak terhadap kesehatan pekerja baik itu kesehatan mental maupun kesehatan fisiknya. Berikut ini adalah beberapa dampak yang akan dirasakan oleh seseorang sebagaimana yang telah dilansir oleh laman detik.com.
Menyebabkan Burnout
Burnout adalah kondisi seseorang yang mengalami kelelahan baik itu fisiknya maupun mentalnya. Pekerjaan yang tiada hentinya dan selalu terbayang-bayang dalam setiap waktu menyebabkan seseorang mengalami burnout.
Ketika seseorang sudah mengalami burnout maka pekerjaan yang dikerjakannya akan sangat lama karena merasa lelah kondisi tubuhnya akibat stres yang berkepanjangan.
Berampak Negatif Terhadap Kesehatan Mental
Seorang workaholic memiliki kemampuan untuk bekerja diatas rata-rata orang normal dalam bekerja. Bahkan ia dapat bekerja sepanjang waktu hingga larut dan melupakan waktu istirahat. Hal yang demikian akan menyebabkan orang tersebut mengalami gangguan tidur hingga berpotensi mengalami depresi.
Orang yang mengalami gangguan tidur akan cenderung mengantuk di siang hari karena kurangnya tidur. Hal ini tentu berakibat pada terganggunya kondisi mental dan menurunnya produktivitas dalam bekerja.
Berdampak Buruk Terhadap Kesehatan Fisik
Mental dan fisik memang erat berkaitan. Sebagaimana, gangguan stres dengan pekerjaan sehingga pikiran diliputi persoalan pekerjaan dan melupakan untuk memberikan asupan makanan dan istirahat yang cukup.
Apabila seseorang sudah melupakan untuk makan, minum bahkan ketika makan pun lebih senang membeli makanan cepat saji yang belum tentu higienis serta makan bukan di waktu yang tepat. Hal tersebut akan berdampak pada kesehatan fisiknya.
Orang yang telat makan, akan berdampak pada kesehatan pencernaan seperti penyakit asam lambung misalnya. Sementara orang menyukai makanan cepat saji akan berisiko mengalami penyakit lainnya seperti obesitas, diabetes, darah tinggi dan sebagainya.
Cara Mengatasi Workaholic
Jika sahabat kaula muda telah menyadari dan menemukan tanda-tanda sebagaimana yang disebutkan dalam diri maka dapat dipastikan bahwa kamu mengalami workaholic. Oleh sebab itu, segera temukan cara mengatasinya sebagai berikut ini.
Membuat Cuti
Cuti adalah membebas tugaskan sementara dari sebuah pekerjaan. Jika sahabat kaula muda merasa stres dengan pekerjaan dan mengalami workaholic sudah saatnya untuk mengambil cuti selama beberapa hari atau dalam jangka waktu yang lama. Jauhkan diri dari semua pikiran soal pekerjaan.
Di masa cuti ini pastikan sahabat kaula muda meluangkan waktu dengan baik, membuat diri bahagia, dan menikmati masa liburan. Hal tersebut akan membuat diri kita lebih rileks dan menikmati hidup.
Lakukan Terapi Ke Psikolog
Jika kondisi sahabat kaula muda cukup parah dan mengalami stres yang berkepanjangan maka, segera temui psikolog. Stres akan menyebabkan depresi, sebelum hal itu benar-benar terjadi alangkah lebih baiknya segera melakukan rehabilitasi untuk pemulihan kondisi.
Ikutilah program rehabilitasi umum yang akan memaksa diri untuk menjalankan perawatan dengan memaksa diri untuk tinggal di suatu tempat dalam waktu tertentu. Hal ini akan memaksa diri untuk istirahat sejenak dengan pekerjaan dan melakukan penilaian terhadap kesehatan mental.
Keluar dari Pekerjaan
Tidak ada salahnya untuk berhenti dari pekerjaan atau resign dalam beberapa waktu. Hal ini dilakukan untuk memfokuskan diri pada ketenangan batin dan kesehatan sembari mengingat kembali apa tujuan hidup yang ingin dicapai?
Tentu langkah ini dapat kita ambil jika memang sudah tidak dapat diperbolehkan untuk cuti dalam beberapa waktu yang sangat lama. Karena sudah seharusnya ketika kondisi sudah tidak baik-baik maka, jalan utamanya adalah untuk memikirkan kebaikan diri sendiri.
Pertimbangan untuk resign tentu memerlukan waktu, tapi waktu tidak akan menjamin kesehatan fisik dan mental kita dapat lebih utuh atau lebih rapuh. Oleh sebab itu, mungkin resign adalah jalan terbaik untuk memperbaiki keadaan.
Nah, sahabat kaula muda bagaimana dengan dirimu? sudahkah menemukan solusinya dengan permasalahan workaholic ini. Bekerja keras boleh terlalu keras jangan, karena bagaimanapun kesehatan sangatlah mahal oleh sebab itu silakan bekerja keras tapi tetap waras!

Komentar
Posting Komentar