Langsung ke konten utama

Oh Tidak! Pemuda Rentan Gangguan Mental, Ini Dia Sebabnya


Di dalam masa transisi seperti sekarang, pemuda memang rentan terhadap gangguan mental. Gangguan mental erat kaitannya dengan kesehatan jiwa seseorang dalam pengelolaan emosi yang ada di dalam diri seseorang. Itulah sebabnya pemuda harus ekstra mengenal gejala-gejala gangguan mental yang ada di dalam dirinya. 

Apa itu Gangguan Mental?


Gangguan mental atau dalam kata lain mental illness (mental disorder) yaitu kondisi dimana seseorang mengalami gangguan kesehatan yang secara umum mempengaruhi perilaku, pemikiran, perasaan, suasana hati, atau bahkan kombinasi dari kesemuanya. 

Gangguan mental yang demikian dapat berlangsung sesekali atau bahkan berkelanjutan hingga mencapai keadaan yang amat kronis. Tentu saja hal tersebut sangat berpengaruh terhadap kesehatan fisik dan psikisnya bahkan puncaknya dapat menyebabkan keinginan untuk bunuh diri atau menjadi kehilangan akal sehat. 

Pada dasarnya keadaan gangguan mental sebenarnya dapat diklasifikasikan sesuai dengan tingkatannya yaitu ringan hingga berat. Kondisi tersebut tentu akan sangat mempengaruhi aktivitas kehidupan sehari-hari dari berbagai aspek kehidupan sosialnya. 

Kendati demikian kondisi gangguan mental yang serumit apapun masih dapat disembuhkan dengan perawatan. Bahkan, untuk beberapa orang yang mengalami gangguan mental yang demikian masih dapat beraktivitas secara normal sebagaimana orang lain pada biasanya. 

Namun, memang pada kondisi yang amat kronis ini sangat mengganggu sehingga dapat memungkinkan seseorang untuk mendapatkan perawatan secara intensif di rumah sakit. Sayangnya, kondisi yang demikian ini memungkinkan memicu hasrat untuk menyakiti dirinya sendiri bahkan sampai pada keinginan untuk mengakhiri hidupnya sendiri. 

Temukan Gejala Gangguan Mental 


Dalam catatan World Health Organization (WHO) salah satu sub organisasi yang dibentuk oleh Persatuan Bangsa-Bangsa (PBB) di bidang kesehatan pernah menyatakan bahwa kelompok rentan pada kondisi gangguan mental adalah remaja dan dewasa. 

Pada usia remaja dimulai sejak usia 14 tahun, dapat dikatakan satu dari lima remaja rentan mengalami gangguan mental dalam hidupnya. Begitu pun yang terjadi pada orang dewasa dikatakan bahwa satu dari empat orang dewasa rentan mengalami gangguan mental. 

Bagaimana seseorang tersebut dapat mengalami gangguan-gangguan mental yang demikian. Berikut adalah beberapa hal mengenai gejala-gajala terjadinya gangguan mental sebagaimana yang dikutip dari laman kementrian kesehatan Indonesia.

  • Sering merasa sedih
  • Kehilangan untuk berkonsentrasi
  • Ketakutan dan rasa khawatir yang disertai perasaan rasa bersalah yang selalu menghantui
  • Perubahan mood atau suasana hati secara drastis
  • Menarik diri dari pergaulan dan lingkungan
  • Insomnia dan mengalami rasa lelah sehingga tidak berenergi. 
  • Ketidakmampuan mengelola stress di kehidupan sehari-hari
  • Paranoid disertai delusi dan halusinasi
  • Tidak mampu memahami situasi orang yang berada disekitarnya
  • Merokok, mengkonsumsi minuman beralkohol yang berlebihan dan penyalahgunaan narkoba
  • Perubahan dalam kebiasaan makan
  • Perubahan dalam gairah seksual
  • Marah yang berlebihan hingga menimbulkan kekerasan
  • Merasa tidak berdaya dan putus
  • Berpikir untuk melakukan bunuh diri.

Selain dari gejala-gejala tersebut beberapa gejala lainnya juga dapat menyebabkan terjadinya sakit perut, sakit pinggang, sakit punggung, sakit kepala dan sebagainya tanpa diketahui penyebabnya.
 

Memulihkan Diri dari Gangguan Mental 


Sebagaimana yang disebutkan sebelumnya bahwa meskipun gangguan mental ini terkesan rumit tetapi, masih dapat dibantu dan diobati. Sebenarnya, untuk pemulihan dari gangguan mental dapat kita lakukan sendiri tanpa bantuan profesional. Hal ini tentu dimulai dengan mengubah pola gaya hidup, dan melakukan perencanaan dalam mengelola kegiatan selama aktivitas di rumah maupun di luar rumah. 

Jika memang senang mengkonsumsi minuman beralkohol dan merokok secara berlebihan, apalagi menggunakan narkoba cobalah untuk berhenti melakukannya karena hal tersebut dapat menyebabkan kecanduan yang berakibat pada ketergantungan. Apabila tidak melakukan hal tersebut, dikhawatirkan akan menyebabkan gangguan mental seperti stres hingga depresi. 

Aktiflah dalam berolahraga karena olahraga akan mengeluarkan hormon dofamin atau hormon kebahagiaan. Olahraga cukup efektif untuk mengatasi gejala-gejala gangguan mental seperti stres, depresi, dan gangguan kecemasan lainnya. 

Mengatur pola makan juga perlu mendapatkan perhatian dan hendaknya diiringi dengan istirahat tidur yang cukup selama 6-7 jam setiap harinya. Dan pastikan apa yang dilakukan setelah bangun tidur dengan melakukan aktivitas fisik baik olahraga maupun bekerja. 

Tetap berpikir positif, berperilaku positif, dan beraktivitas dengan hal-hal yang positif. Tinggalkan berbagai macam pikiran buruk dalam diri karena itu akan berpengaruh terhadap kondisi mental. Pastikan pula tidak mengambil keputusan yang penting ketika dalam kondisi mendapatkan gejala gangguan mental karena hal tersebut membuat pikiran tidak jernih. 

Sebagai makhluk sosial tidak ada salahnya untuk membangun sebuah support system dengan sesama penderita gangguan mental yang sama. Hal tersebut akan membuat kita lebih baik karena mendapatkan dukungan untuk keluar dari gangguan mental tersebut. 

Perbaiki hubungan sosial dimasyarakat dengan turut serta dan berpartisipasi dalam aktivitas kemasyarakatan. Lakukan perkumpulan bersama keluarga, teman atau komunitas secara berkala untuk mengurangi perasaan tidak baik dalam diri kita. 

Sepertinya sudah saatnya kita memberikan semangat kepada diri kita untuk jiwa yang sehat. Sehat tanpa gangguan mental, tanpa ada sedikit pun kekhawatiran dan kecemasan yang akan terjadi pada diri kita dimasa mendatang. 

Sulaeman Daud, lahir pada 7 April 1996. Asal Sukabumi, Sekarang berdomisili di Kota Tangerang pekerjaaan buruh serabutan nyambi menulis blog biar tetap waras

Komentar

Designed by Open Themes & Nahuatl.mx.