Langsung ke konten utama

Membangun Keluarga Sakinah, Mawadah wa Rahmah Seperti Apa Sih?


Saat kabar pernikahan itu sampai ke telinga kita, ada do'a yang mungkin kerap disampaikan oleh orang-orang yang mendengar kabar bahagia tersebut yaitu "semoga menjadi keluarga yang sakinah, mawadah wa rahmah." Ya, ucapan tersebut merupakan sebuah do'a dan hendaknya diaminkan. 

Sebagaimana tujuan dalam pernikahan  yang salah satu diantaranya untuk memperoleh ketenangan jiwa dan kebahagiaan dalam berkeluarga. Itulah kenapa membangun keluarga yang sakinah, mawadah wa rahmah menjadi dambaan setiap keluarga muslim. 

Lantas apa yang dimaksud dengan sakinah, mawadah wa rahmah? berikut kita ulas pengertiannya. 

Apa Itu Sakinah, Mawadah wa Rahmah?

Pada dasarnya kalimat sakinah, mawadah wa rahmah merupakan do'a untuk pengantin baru agar dapat mencapai tujuan pernikahan. Hal ini telah disampaikan Allah SWT di dalam Quran Surah Ar Rum ayat 21 sebagaimana bunyinya berikut ini. 





Di antara tanda-tanda (kebesaran)-Nya ialah bahwa Dia menciptakan pasangan-pasangan untukmu dari (jenis) dirimu sendiri agar kamu merasa tenteram kepadanya. Dia menjadikan di antaramu rasa cinta dan kasih sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi kaum yang berpikir. (QS. Ar Rum : 21)

Dalam ayat tersebut termaktub kalimat litaskunuu yang akar katanya dari kalimat sakinah kemudian di ikuti dengan kalimat mawaddah dan rahmah. Secara bahasa dapat diartikan pula bahwa sakinah adalah kedamaian, mawadah adalah cinta kasih dan rahmah adalah kasih sayang atau rahmat. 

Sakinah

Menurut bahasa sakinah dapat diartikan kedamaian, ketentraman, kenyamanan, ketenangan. Dalam artian ldiberikannya rasa damai dan tentram dalam membangun sebuah keluarga. Sehingga keluarga yang sakinah akan terhindar dari kehancuran, ketidak harmonisan, keresehan dan keguncangan. 

Konflik di dalam keluarga, seperti terjadinya kekerasan, pelecehan, pertikaian, bahkan sampai mengancam pada terjadinya perceraian adalah tanda-tanda dari keluarga yang tidak sakinah. Penyebabnya dapat beragam, entah itu karena adanya orang ketiga, konflik ekonomi, atau perilaku keduanya yang kemudian menimbulkan masalah. 

Mawadah

Menurut bahasa mawadah diartikan cinta yang mengebu-gebu, dalam hal ini adalah perasaan yang dipenuhi dengan rasa cinta terhadap pasangannya. Cinta yang tumbuh dan bersemi dilatarbelakangi oleh berbagai faktor seperti kecantikan, ketampanan, kecerdasan, kesantunan akhlak ataupun karena hal lainnya. 

Pada dasarnya, Islam tidak melarang jatuh cinta karena cinta merupakan fitrah bagi manusia sehingga hal tersebut telah melekat dalam diri seseorang sejak ia diciptakan. Oleh karenanya, membangun sebuah keluarga hendaknya selalu dipenuhi dengan cinta agar setiap langkah yang dilakukan begitu lekat dan mesra. 

Keluarga yang dipenuhi dengan mawadah akan melahirkan keluarga yang tumbuh dengan sehat dan langkah-langkah positif. Begitupun sebaliknya, ketidak adaannya mawadah dalam keluarga akan menjadikan sebuah keluarga tertimpa malapetaka seperti perselingkuhan, kekerasan, hingga berakibat pada perceraian. 

Oleh karenanya, setiap keluarga perlu memupuk benih-benih cinta itu mulai dari pasangan suami dan istri hingga anak-anaknya. Proses pemupukan ini perlu diiringi dengan kesabaran, ketulusan dan do'a yang ikhlas supaya dianugerahi keluarga yang memiliki mawadah. 

Rahmah

Menurut bahasa rahmah berarti karunia, rahmat atau kasih sayang. Keluarga yang memiliki rahmah tentu ialah keluarga yang dipenuhi oleh rasa kasih sayang. Terutama, kasih sayang paling besar dan tinggi adalah kasih sayangnya Allah SWT. 

Keluarga yang diberikan kasih sayang oleh Allah akan selalu dimudahkan jalannya dalam mencapai sebuah solusi menghadapi tantangan bahtera rumah tangga. Seperti dimudahkannya dalam memperoleh rezeki yang halal, keluarga yang harmonis, sehingga rukun dengan sesama. 

Kesabaran dalam berjuang dan berkorban dari seorang suami dan istri merupakan kunci dari terbukanya rahmat Allah. Sehingga, dalam ibadah rumah tangga sesungguhnya tidak ada yang sia-sia dan apabila berkehendak Allah akan mewujudkan segala macam harapan yang diinginkan dalam sebuah keluarga. 

Sebaliknya, apabila dalam rumah tangga tidak diiringi dengan kesabaran, perjuangan dan pengorbanan yang ada hanya menyisakan keputusasaan sehingga memperburuk keadaan. Rezeki akan dipersulit, kesalahpahaman dalam mengelola rumah tangga kian kentara, percekcokan hingga pertikaian yang berakibat pada perceraian. 

Bagaimana Cara Membangun Keluarga Sakinah, Mawadah wa Rahmah?

Membangun keluarga yang sakinah, mawaddah wa rahmah tidak semudah membalikkan telapak tangan. Perlu adanya proses dan usaha yang harus dilakukan antara suami dan istri. Bagaimana cara melakukannya?

Membangun Fondasi Cinta dan Kasih Sayang

Cinta dan kasih menjadi faktor utama dalam ikatan sebuah keluarga. Hal tersebut menjadi sangat fundamental bagi suami istri untuk memupuk keluarga yang sakinah, mawadah wa rahmah. Cinta dan kasih sayang sangat penting karena dapat menyebabkan adanya ketentraman jiwa dan kedamaian dalam rumah tangga. 

Keterbukaan dan Saling Memaafkan

Tidak ada manusia yang dalam hidupnya tanpa memiliki masalah. Sama halnya, dengan pengantin baru yang berumah tangga dan berkomitmen membangun sebuah keluarga oleh karenanya, diperlukan keterbukaan dari setiap masalah yang dihadapi diantara keduanya juga saling memaafkan apabila diantara keduanya berbuat salah. 

Dengan ketersaling memaafkan maka, Allah SWT akan memberikan rahmat bagi keduanya sehingga dimudahkan segala urusan keluarga. Saling memaafkan juga akan membuka adanya transparansi dikeduanya sehingga tidak akan menaruh kesalahpahaman. 

Saling Menghormati

Suami dan istri tentu memiliki kesibukannya masing-masing selain berada di dalam rumah. Oleh sebab itu, seorang istri hendaknya menghormati setiap kesibukan suaminya dan menghargai setiap nafkah yang telah diusahakan oleh suaminya. 

Begitu juga dengan suami harus menghargai apa yang dilakukan oleh istrinya yang semata-mata untuk membahagiakan suaminya. Seperti menyediakan makan dan minum, mengurus urusan rumah tangga, termasuk dalam mendidik anak. 

Keduanya juga dianjurkan untuk saling menghormati termasuk menghargai privasi masing-masing, menghargai keluarga dari suami atau istri dan juga teman-teman dari pasangannya. Serta memperlakukan pasangan dengan baik layaknya rekan hidup. 

Saling Mengingatkan dan Melindungi

Khilaf merupakan fitrah manusia, kendati demikian apabila didiamkan justru akan membuat kita terjerumus ke dalam lembah dosa. Seorang suami wajib mengingatkan kepada istrinya apabila melakukan hal-hal yang buruk. Juga, selalu melindunginya agar tidak terjerumus dalam keburukan tersebut. 

Begitu pula dengan seorang istri memiliki tugas untuk mengingatkan suami ketika saat khilaf. Melindungi harta dan nafkah yang diberikan oleh suami agar terhindar dari perkara-perkara yang haram yang dapat mencelakakan keluarga.

Selalu Musyawarah dalam Memecahkan Masalah

Musyawarah merupakan jalan terbaik untuk mencari solusi dari sebuah permasalahan, termasuk dengan masalah keluarga. Suami dan istri harus saling bermusyawarah untuk memutuskan hal-hal yang menyangkut dengan kepentingan bersama sehingga tidak terjadi percekcokan diantara keduanya di masa depan. 

Pada dasarnya pernikahan memberikan ruang kepada pasangan untuk saling berbagi hidup dan kehidupan sehingga, sudah selayaknya segala hal yang menyangkut hajat keluarga diputuskan secara bersama-sama. 

Komitmen Pada Kesetiaan

Pernikahan bukan hanya sekadar komitmen untuk menyatukan jasad suami dan istri tetapi, juga komitmen menyatukan ruh suami dan istri dalam hal ini setia pada keduanya. Dengan menjunjung tinggi komitmen pada kesetiaan suami istri dituntut untuk menerima segala keadaan dan setia dengan pasangan dalam keadaan apapun. 

Demikian sekilas mengenai kehidupan sakinah, mawadah wa rahmah kehidupan keluarga yang di dambakan oleh seluruh umat manusia. Dari apa yang disampaikan mungkin masih sedikit sekali cara-cara untuk membangun keluarga yang sakinah, mawadah wa rahmah. Kendati demikian, semoga tulisan ini dapat bermanfaat dan dapat diaplikasikan dalam kehidupan rumah tangga. 

Sulaeman Daud, lahir pada 7 April 1996. Asal Sukabumi, Sekarang berdomisili di Kota Tangerang pekerjaaan buruh serabutan nyambi menulis blog biar tetap waras

Komentar

Designed by Open Themes & Nahuatl.mx.