Duhai senangnya pengantin baru, duduk bersanding bersenda gurau. Begitulah potongan lirik qosidah zaman old yang menggambarkan bagaimana bahagianya menjadi pengantin baru. Padahal setelahnya mereka menghadapi realitas yang berbeda dari sebelumnya yaitu menyandang status baru sebagai suami dan istri.
Kebahagiaan dalam resepsi pernikahan, seringkali membuat pengantin baru terlena dalam euforia pesta yang hanya sesaat dan selesai dalam hitungan jam. Maka pada saat itulah, mesin-mesin kapal sedang dinyalakan untuk berlayar di samudra kehidupan.
Hidup bersama mengarungi setiap lika-liku kehidupan bersama pasangan terkasih merupakan sebuah impian bagi sebagian besar orang. Dengan demikian separuh dari jiwanya telah ditemukan dan siap untuk berjalan bersama.
Dalam memulai perjalanan sebuah bahtera rumah tangga, tentu yang diperlukan untuk menghadapi setiap tantangan yang melintang adalah mempersiapkan dan memperkuat mental. Karena ada anggapan bahwa tahun-tahun pertama merupakan fase yang menyulitkan bagi pengantin baru.
Kenapa hal tersebut bisa demikian? menurut penuturan psikolog bahwa memang dua tahun pertama merupakan fase tersulit untuk dilalui oleh pengantin baru karena, keduanya masih dalam tahap perkenalan dan beradaptasi dengan pasangan hidupnya.
Lantas apa saja yang akan dihadapi oleh pengantin baru dalam menjalankan bahtera rumah tangga dalam dua tahun pertama? Berikut kita ulas hal-hal yang perlu dipelajari oleh setiap pasangan.
Kebiasaan di Dalam Rumah
Setiap orang mungkin memiliki kebiasaan yang berbeda ketika di dalam rumahnya masing-masing. Hal ini akan menyebabkan efek kultural rumah yang baru disinggahinya. Maka, sangat perlu diperhatikan dalam memahami kebiasaan-kebiasaan suami dan istri di dalam rumah untuk menjadi sebuah nilai baru dalam rumah tangga.
Seorang suami yang biasanya hidup berantakan tidak pernah menata dengan rapi setiap sudut rumahnya tentu akan menjadi efek sock culture bagi istrinya yang selalu rapi dan bersih. Sehingga, hal tersebut kemudian akan menjadi sebuah permasalahan.
Keuangan
Finansial atau keuangan merupakan permasalahan yang sensitif dimasa awal pernikahan. Pasalnya, kedua orang yang berbeda tentu memiliki value atau nilai berbeda dalam mengatur keuangan. Hal tersebut dapat dilihat dari latar belakang cara keluarga masing-masing mengatur perihal keuangan.
Persoalan utang piutang yang belum diselesaikan dimasa sebelum menikah yang sungkan untuk dibicarakan dan didiskusikan bersama akan meninggalkan sebuah permasalahan bagi keduanya. Permasalahan tersebut tentu harus di musyawarahkan dan dilalui dengan baik.
Keluarga Besar
Setiap suami merupakan bagian dari keluarga besar istrinya, begitu juga sebaliknya. Akan ada interaksi antara dirinya dengan keluarga besar barunya. Akhirnya, seseorang harus mampu berkomunikasi dengan baik kepada keluarga besar barunya tanpa melupakan keluarga besar sebelumnya.
Keluarga besar akan menjadi sebuah tantangan bagi seorang suami dan istri oleh karena itu, suami dan istri harus mampu mengatur waktu untuk tetap saling berkomunikasi dengan kedua keluarga besar. Keluarga besar dapat menjadi masalah ketika seseorang diantara suami maupun istri mengabaikan intensitas komunikasi.
Nilai Baru dalam Keluarga
Pada mulanya pasangan suami istri memiliki latar belakang keluarga yang berbeda, dan memiliki nilai keluarga yang berbeda. Dalam sebuah hubungan mereka akan kembali saling mengenal satu sama lainnya sehingga menimbulkan nilai baru bagi keluarga yang baru dirintis itu.
Dalam membangun sebuah konsep keluarga yang diharapkan oleh pengantin baru, perlu adanya kerjasama dan team work yang baik. Mengutamakan komunikasi dan musyawarah sehingga mudah menerima nilai baru yang timbul dari keduanya.
Anak
Persoalan anak menjadi sangat urgen untuk di diskusikan bagi setiap pengantin baru. Hal ini perlu diperhatikan untuk merencanakan program kehamilan, menginginkan berapa anak, laki-laki atau perempuan sampai pada pola asuh dan pendidikan sang anak kelak.
Anak akan menjadi masalah apabila tidak direncanakan dengan baik. Karena pada dasarnya anak merupakan titipan Tuhan yang harus dirawat dan dibesarkan dengan baik. Setiap anak akan menjadi anugerah ketika pola asuh yang dijalankan berdasarkan pada nilai-nilai. Sebaliknya, akan menjadi masalah ketika kedua orangtuanya tidak memperhatikan nilai-nilai yang ditanamkan kepada anak dengan baik.
Pembagian Peran
Idealisnya urusan mencari nafkah dan bekerja untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga adalah seorang suami, maka istri memiliki tugas untuk mengerjakan hal-hal yang bersifat domestik. Tetapi, akan beda halnya jika keduanya memiliki pekerjaan masing-masing diluar rumah sehingga hal ini dapat memicu terjadinya masalah.
Sebenarnya tidak masalah jika keduanya memiliki pekerjaan untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga bersama-sama. Oleh sebab itu, perlu adanya kerja sama diantara keduanya untuk berbagi peran. Baik dalam urusan domestik maupun urusan diluar rumah. Komunikasi merupakan kunci dari itu semua.
Dari keenam tantangan tersebut bukan berarti menjadi pengantin baru merupakan momok yang menakutkan. Justru, keduanya perlu memahami hal-hal tersebut serta membicarakan solusi yang harus dilakukan oleh keduanya. Sehingga pengantin baru dapat melewati tantangan tersebut pada dua tahun pertama pernikahan.
Komitmen dalam menjalankan pernikahan bukan sekadar memadu cinta dan kasih sayang melainkan, komitmen juga dalam memperhatikan berbagai aspek kehidupan lainnya dengan bersama-sama baik persoalan ekonomi, sosial, pendidikan anak hingga yang berkaitan dengan pengembangan diri baik suami maupun istri.
.png)
Komentar
Posting Komentar