Langsung ke konten utama

Manakah Cinta dan yang Manakah Nafsu?


Anugerah yang diberikan oleh Allah kepada kita selain akal dalam meraih sebuah kebahagiaan adalah rasa kasih dan sayangNya. Rasa kasihnya yang begitu luas Allah berikan kepada seluruh makhlukNya baik manusia, hewan, langit dan bumi semua Allah beri kenikmatan untuk menjadi dirinya. Akan tetapi rasa sayangnya ia berikan kepada makhluk yang khusus Dia kehendaki untuk lebih mengenal dirinya. 

Jika Allah sebagai Tuhan yang memiliki rasa kasih dan sayang yang begitu luas lantas bagaimana manusia bisa memberikan rasa kasih dan sayangnya? Kasih dan sayang manusia merupakan anugerah terindah yang diberikan Allah sehingga terakumulasi dalam balutan kebahagiaan yang kita sebut dengan "cinta".

Siapa yang tidak pernah merasakan jatuh cinta? tampaknya akan begitu sangat mustahil manusia tidak pernah merasakan yang namanya jatuh cinta. Karena cinta pada dasarnya merupakan sebuah hal yang manusiawi dan hal itulah yang menumbuhkan jiwa untuk saling terikat dalam mencari jalan kebahagiaan melalui ikatan cinta. 

Selain cinta, Allah juga menganugerahkan nafsu sebagai pemantik dalam mendorong sebuah hasrat. Sayangnya, nafsu kadang-kadang berperan lebih mendominasi dan berlebihan sehingga mengaburkan makna cinta yang sesungguhnya bahkan membahayakan orang yang menuruti keinginannya. 

Lantas bagaimana seseorang mendeteksi sebuah perasaan dalam hatinya, apakah itu cinta atau nafsu yang mendominasi dalam dirinya. Oleh karenanya kita simak berikut ini. 

Pengertian Cinta dan Nafsu

Pada dasarnya cinta tidak dapat di definisikan secara konkret bagaimana hal itu bisa terjadi secara ilmiah, baik karena reaksi kimia yang ada didalam otak sehingga menumbuhkan hormon cinta atau karena stimulus lingkungan yang memberikan respon kebahagiaan. 

Inilah sebabnya para penyair dan pujangga berlomba-lomba untuk menentukan makna cinta yang sesungguhnya. Faktanya cinta merupakan sensasi psikologis yang hanya dapat dirasakan oleh seseorang tanpa harus memberikan penjelasan yang rasional. 

Cinta yang bersumber dari ketulusan hati yang ikhlas tentu akan berdampak pada perilaku akan tumbuhnya rasa untuk saling menyayangi, mengasihi, melayani, melindungi, berkorban, menjaga, serta memberikan segala hal yang terbaik untuk seseorang yang dicintai. 

Beda halnya dengan cinta yang di dasari untuk mendapatkan tubuhnya, memilikinya, yang semata-mata karena ketertarikan seksualnya. Sudah dipastikan bahwa hal tersebut merupakan dorongan atas nafsu syahwatnya. 

Allah SWT dalam Quran Surah Ali Imran ayat 14 berfirman


"Dijadikan indah bagi manusia kecintaan pada aneka kesenangan yang berupa perempuan, anak-anak, harta benda yang bertimbun tak terhingga berupa emas, perak, kuda pilihan, binatang ternak, dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia dan di sisi Allahlah tempat kembali yang baik." (QS. Ali Imran : 14)

Perbedaan Cinta dan Nafsu

Sebenarnya cinta sejati adalah cinta yang suci tidak pernah terbersit sesuatu yang kotor di dalamnya. Rasa yang datang dari ketulusan jiwa hingga terwujud dalam bentuk keinginan untuk menyayangi dan melindungi perasaan tersebut. 

Sebaliknya dengan nafsu, yang berkiasan keindahan padahal hanya sebuah fotamorgana. Tampak seperti melindungi yang justru sebenarnya menyakiti, begitu pula dengan rasa ingin menyayangi padahal justru mengkhianati. Yang hanya semata-mata melampiaskan hasrat yang ada di dalam jiwa. 

Cinta Menginginkan Kasih Sayang, Nafsu Menginginkan Kerusakan

Ciri dari sebuah cinta adalah terjalinnya rasa kasih sayang, peduli dan saling melindungi serta saling mengingatkan dalam hal kebaikan. Karena cinta begitu murni sehingga tidak ada keinginan untuk menjerumuskan pasangan dalam lembah kerusakan. 

Beda halnya dengan nafsu yang sejak awal hanya ingin memanfaatkan perasaan seseorang untuk merusaknya dikemudian. Cinta yang didominasi nafsu akan mengantarkannya pada hal-hal yang dilarang oleh nilai-nilai agama. 

Cinta Berbuah Kebahagiaan, Nafsu Berbuah Penyesalan

Cinta akan selalu mencari jalan menuju kebahagiaan, cinta juga yang selalu menjadi motivasi seseorang untuk membahagiakan tanpa merasa dirinya menderita. Mencintai pasangannya dengan sepenuh hati dalam suka maupun duka, ketika dijalani bersama akan tampak terasa sempurna dan bahagia. 

Beda halnya dengan nafsu yang terus memperturutkan syahwatnya untuk mencapai kebahagiaan yang sementara. Setelah hilang rasa hilang pula selera, hingga akhirnya meninggalkan luka. Nafsu hanya luapan hasrat yang sesaat dan nafsu yang berlebihan akan diiringi dengan sifat setan sehingga berakhir dengan penyesalan. 

Cinta itu Memberi, Nafsu itu Ingin Diberi

Cinta yang tulus selalu memberikan kedamaian bagi pasangannya, siap sedia dalam kondisi apapun dan bagaimanapun. Seseorang yang mencintai akan selalu membantu dan menolong kekasih yang disayanginya ketika dalam keadaan kesusahan. 

Orang yang mencintai tidak mungkin memanfaatkan kesulitan kekasihnya dengan mengambil keuntungan dari apa yang dia perbuat. Segala sesuatu akan dilakukan dengan dasar cinta dan ketulusan yang berada dilubuk hatinya. 

Beda halnya dengan nafsu yang hanya menginginkan untuk diberi, selalu menuntut apa yang ada di dalam diri kekasihnya untuk disesuaikan dengan seleranya. Cenderung memanfaatkan kelemahan pasangan untuk memenuhi hasratnya dan mendorong pada keegoisan. 

Motivasi Rasa Cinta Menurut Imam Al Ghozali

Setiap cinta yang ditimbulkan oleh dua sejoli tentu disebabkan oleh adanya interaksi diantara keduanya. Interaksi tersebut yang memotivasi seseorang untuk saling mencintai. Imam Al Ghozali mengungkapkan beberapa faktor yang memotivasi manusia dalam menumbuhkan cinta sebagaimana yang dikutip dalam kitab Ihya Ulumuddin. 

Faktor Internal

Cinta yang didasarkan pada figur seseorang baik secara fisik, perilaku, kecerdasan, pendidikan dan kekaguman seseorang pada apa yang ditimbulkan dari dirinya merupakan sesuatu yang wajar dan normal pada umumnya. Unsur-unsur figuristik tersebut yang menjadikan alasan orang untuk jatuh cinta. 

Al Ghozali dalam hal ini mengungkap tidak sepaham dengan hal tersebut, meskipun sesungguhnya cinta yang didasarkan pada hal demikian tidaklah berdosa. Kecuali, hal tersebut mendorong seseorang untuk berbuat dosa. 

Lebih lanjut Al Ghozali menjelaskan bahwa cinta dapat tumbuh dikarenakan adanya faktor kecocokan dan kesesuaian antara dua orang atau disebut dengan munasabah. Kecocokan ini bersifat abstrak artinya, tidak dapat dilihat tetapi dirasakan oleh dua insan yang bersangkutan. 

Kecocokan abstrak akan menyebabkan cinta tumbuh untuk saling mencintai dan menyayangi, tidak akan mempedulikan hal-hal yang bersifat figuristik. Karena, kecocokan abstrak ini berada jauh diluar analisis manusia. 

Faktor Eksternal Duniawi

Dorongan seseorang untuk mencintai adalah berbentuk keduniawian. Duniawi adalah tujuan utama yang ingin dicapainya sementara pasangan tidak lebih sebagai alat untuk menguasai harta, tahta dan hal-hal lainnya yang bersifat keduniawian. Maka, sesungguhnya dia hanya mencintai harta dan kedudukan yang dia incar. 

Cinta yang demikian tentu tidak akan membuat kebahagiaan diantara keduanya, apalagi semata-mata yang ia inginkan adalah harta dan kedudukannya. Jenis cinta yang seperti ini tidak akan memiliki ketulusan di dalam hatinya apalagi semata-mata cinta karena Allah. 

Faktor Eksternal Ukhrawi

Cinta yang didorong oleh keinginan ridho Allah adalah cinta yang semata-mata menginginkan kebaikan yang ada di dalam diri seseorang. Mencintai orang yang sholeh dan sholehah dengan mengharap ingin diberikan keturunan yang sholeh dan sholehah serta mampu menjaga keimanan kepada Allah SWT. Meskipun, ada yang bersifat duniawi tetapi, hal tersebut dijadikan washilah untuk meningkatkan keimanan kepada Allah. 

Sayangnya, Al Ghozali memberikan catatan mengenai hal ini apabila yang diharapkan untuk mencapai nilai ukhrawi berkurang kadarnya, maka berkurang pula cintanya. Begitu juga sebaliknya, apabila kepentingan-kepentingan yang didapatkannya bertambah, bertambah pula rasa cintanya. 

Cinta yang didasarkan karena Allah akan selalu mengingat bahwa apa yang dilakukannya untuk mencintai seseorang adalah karena cinta kepada Allah. Apabila, itu tidak didasarkan kepada Allah mungkin cinta itu tidak akan pernah terasa. 

Demikian cinta dan nafsu, terkadang kita sulit membedakannya dan hanya dengan kesadaran dan keimananlah kita akan mampu memilah yang mana cinta dan yang mana nafsu. 

Sulaeman Daud, lahir pada 7 April 1996. Asal Sukabumi, Sekarang berdomisili di Kota Tangerang pekerjaaan buruh serabutan nyambi menulis blog biar tetap waras

Komentar

Designed by Open Themes & Nahuatl.mx.