Belakangan ini, pemuda di Indonesia menjadi sorotan karena jumlahnya yang meningkat dan disebut-sebut sebagai bagian dari bonus demografi, dimana angka masyarakat yang usia produktif lebih banyak ketimbang masyarakat yang usianya tidak produktif.
Dominasi dari banyaknya pemuda yang ada di Indonesia tentu menjadi anugerah yang harus dimanfaatkan oleh bangsa untuk membangun bangsanya baik dari aspek ekonomi, sosial, politik dan aspek kehidupan lainnya.
Dengan demikian, generasi mendatang Indonesia akan menjadi negara yang maju dan sorotan dunia dalam hal pemberdayaan pemuda. Oleh karenanya, pemuda hendaknya diberikan kesempatan yang seluas-luasnya untuk mengeksplorasi dan mengembangkan potensi diri yang ada di dalam dirinya.
Siapakah Pemuda Itu?
Jika memang pemuda memiliki peranan penting dalam memajukan dan meningkatkan potensi yang dimiliki suatu negara, atau kehidupan sosial lainnya maka, pemuda yang seperti apa yang dimaksud dalam hal tersebut?
Mari kita mulai dari definisi pemuda. Pemuda menurut undang-undang nomor 48 tahun 2009 merupakan Warga Negera Indonesia yang memasuki periode penting masa pertumbuhan dan perkembangan pada usia 16 sampai 30 tahun.
Disisi lain, Pemuda juga memiliki pengertian sebagai individu yang memiliki karakter yang dinamis, serta progresif dalam bertindak akan tetapi belum bisa melakukan pengendalian emosi yang stabil. Sehingga jiwa pemuda selalu di dominasi dengan hasrat yang menggebu-gebu dan selalu berani menemukan sesuatu yang baru.
Karakteristik pemuda yang selalu progresif dan penuh keberanian inilah yang mestinya dapat diarahkan untuk hal-hal yang baik dan menanamkan nilai-nilai untuk pembangunan dan kemajuan negera. Oleh karenanya, peranan penting sebagai pemuda yang progresif menjadi tanggung jawab bagi setiap pemuda di tanah air ini.
Generasi Milenial dan Gen Z
Akhir-akhir ini mungkin kita cukup akrab dengan istilah milenial dan gen-z. Dimana dua istilah tersebut kini melekat dengan generasi pemuda yang ada pada saat ini. Sebagai bagian dari generasi muda, maka perlu kiranya kita memahmi apa yang dimaksud dengan Milenial dan Gen Z.
Milenial atau Generasi Milenial merupakan sebuah penamaan pada orang-orang yang lahir setelah generasi X, dimana Generasi Milenial disebut juga sebagai Generasi Y yaitu orang yang lahir dengan rentang tahun 1981-1996. Rentang waktu ini yang digunakan BPS dalam Sensus 2020.
Sementara Generasi Z atau Gen Z dikenal juga sebagai Generasi Zoomer, adalah kelompok demografi yang memilki rentanng usia mulai 1997 sampai 2010. Adapun generasi setelahnya disebut dengan Generasi Alpha.
Penamaan generasi pada setiap rentang waktu usia, selain untuk memudahkan pengelompokan demografi juga memiliki khas yang penting dari setiap generasi seperti pengalaman, kemajuan teknologi, mindset, pola hidup dan sosial ekonomi yang dialaminya.
Karakteristik Generasi Milenial dan Gen Z
Secara umum, antara Generasi Milenial dan Gen Z memiliki banyak kesamaan terutama dalam mengelola akses teknologi dengan kesadaran bahkan, menjadi pelaku dalam memunculkan tren-tren baru.
Dilansir dari laman umsida.ac.id diantara karakteristik Generasi Milenial dan Gen Z diantranya melek teknologi, kreatif, menerima perbedaan, peduli terhadap sesama, senang berekspresi, FOMO, kecemasan dan tingkat stress yang tinggi, dan Mudah mengeluh dan self proclaimed.
Melek Teknologi
Generasi Milenial dan Gen Z sudah tidak merasa asing dengan kehadiran berbagai teknologi mutahir saat ini. Bahkan, mereka begitu sangat menguasai berbagai teknologi hanya dalam satu genggaman, terutama dalam melakukan interaksi melalui media sosial dan game online.
Kreatif
Dengan meleknya teknologi dan banyak melakukan aktivitas di media sosial, membuat beberapa orang untuk melakukan hal-hal kreatif dan terlibat dalam pembuatan-pembuatan konten yang dapat mengeksplorasi daya kreativitasnya.
Menerima Perbedaan
Globalisasi dengan pertukaran informasi dari berbagai aspek, tanpa dibatasi suatu wilayah dan kesukuan tertentu membuat generasi milenial dan gen z lebih mudah menerima perbedaan. Bahkan, mereka dapat sama-sama menikmati hidangan kreativitas yang disuguhkan dari berbagai latar belakang, suku, agama, ras, dan golongan yang berbeda.
Peduli Terhadap Sesama
Kekuatan kepedulian dan rasa iba dari generasi ini menunjukan mereka memiliki rasa kemanusiaan yang sama dan kepekaan terhadap penderitaan manusia di belahan bumi lain. Hal ini kemudian ditunjukan dengan adanya open donasi yang dilakukan secara online. Misalnya seperti donasi untuk Palestina, korban bencana alam gempa di Cianjur, tsunami di Palu, dan banyak lagi.
Senang Berekspresi
Generasi Milenial dan Gen Z senang sekali memanfaatkan media sosial untuk menunjukan ekspresinya, bahkan tidak jarang ekspresi yang ditunjukannya mendapat dukungan banyak dari netizen sehingga mendorongnya untuk terus melakukan kreativitas.
Dengan menunjukkan ekspresinya di media sosial mereka mendapat kepuasan tersendiri. Bahkan tidak jarang melemparkan uneg-uneg apa yang dirasakannya saat ini melalui media sosial untuk mendapatkan perhatian dari pengguna media sosial.
FOMO
FOMO merupakan singkatan dari Fear of Missing Out yaitu dimana suatu kondisi seseorang tidak ingin kehilangan tren-tren terbaru saat ini. Generasi Milenial dan Gen Z yang cenderung fomo selalu merasa resah dan gelisah ketika ia merasa ketinggalan sebuah informasi atau tren yang sedang viral. Sehingga, setiap saat ia selalu melakukan pengecekan terhadap media sosialnya.
Kecemasan dan Tingkat Stress yang Tinggi
Negative Thinking yang kadang menghantui para milenial dan gen z dimana mereka mulai dihadapkan dengan kenyataan hidup yang tidak sesuai dengan harapan seperti yang mereka lihat di dunia maya. Hal tersebut membuatnya merasa cemas dengan masa depan sehingga menyebabkan stress bahkan dapat berlanjut menjadi depresi.
Mudah Mengeluh
Mental yang labil dan belum benar-benar matang membuat generasi ini senang sekali mengeluh. Hal itu biasanya mereka ungkapkan melalui media sosial dan merasa beban hidupnya menjadi tidak seimbang dengan apa yang mereka usahakan.
Self Proclaimed
Disamping mudah mengeluh, terkadang mereka juga senang sekali memuji diri sendiri. Memberikan gelar-gelar kehormatan untuk dirinya sendiri tanpa mempertimbangkan penilaian orang lain. Bahkan mereka terkesan enggan untuk menerima kritik dan lebih memperdulikan dirinya sendiri.

Komentar
Posting Komentar