Sarekat Dagang Islam (SDI)
Sarekat Dagang Islam (SDI) didirikan di Solo oleh Haji Samanhudi pada tanggal 16 Oktober 1905 dengan narasi bersifat dan bercorak sosial dan ekonomi, dengan berasaskan Islam. Perhimpunan ini bersifat massal meliputi seluruh umat Islam dari Aceh hingga Merauke. Sistem tanam paksa (1830-1910) dengan sistem monopoli pasarnya, bertujuan mematahkan kemampuan penguasaan pasar dan pemarsan umat Islam. Umat Islam memperlihatkan membangun organisasi niaga.
Pada awal abad ke-20 kesadaran gerakan umat Islam mampu mempelopori kebangkitan umat Islam Hindia Belanda dengan didirikannya Sarekat Dagang Islam (SDI)
Sarekat Islam (SI)
Kemudian oleh H.O.S Tjokroaminoto, SDI diubah menjadi Sarekat Islam (SI) yang lebih berorientasi kepada sosial-politik pada tanggal 11 November 1911 dan mendapat badan hukum dari pemerintah Belanda pada 10 September 1912.
Dengan mencontoh kepemimpinan Rasulullah SAW, HOS Tjokroaminoto berjuang membangkitkan kesadaran Nasional Umat Islam. Bangkit dengan Al-Qur'an dan Sunnah, melalui paradigma Lima-K. Dibangunkanlah kesadaran umat Islam yang sedang terlena dan lupa akan martabat dirinya, agar bangkit menjadi bangsa yang merdeka : Kemauan, Kekuatan, Kemenangan, Kekuasaan dan Kemerdekaan.
Central Sarekat Islam (CSI)
H.O.S Tjokroaminoto adalah utusan Umat Islam bangsa Indonesia dalam Kongres Negara-Negara Islam setelah runtuhnya Kekhalifahan Turki Utsmani pada tahun 1924. Dari kongres tersebut dihasilkan rumusan untuk membentuk Komite Khalifah dengan program Pan Islamisme (Kemerdekaan Bangsa, Kemerdekaan Umat Islam, Kemerdekaan Sejati).
Keputusan Kongres pertama Sarekat Islam di Surabaya pada tahun 1913 melahirkan keputusan pembaruan organisasi SI memiliki Central Sarekat Islam di kota-kota besar seperti Bandung, Yogyakarta dan Surabaya.
Boedi Oetomo
Hal tersebut yang dilakukan SI tentu mengancam eksistensi pemerintah Kolonial Belanda. Karena itu, perlu diadakan gerakan tandingannya. Tugas untuk menandinginya diserahkan kepada Boedi Oetomo. Dua tahu kemudian mengadakan Algemene Vergadering Boedi Oetomo di Bandung pada tahun 1915. Dapatlah dipastikan keputusan yang diambilnya tidak terlepas dari tujuan mengukuhkan Jawanisme.
Aktivitas politik Central Sarekat Islam semakin berani, dengan mengadakan Firste National Congress (1e NATICO) Sarekat Islam yang pertama. Kegiatan tersebut dilaksanakan di Gedung Concordia, atau Gedung Merdeka di jalan Asia Afrika Bandung. Kongres ini selain berhasil mempelopori sosiaslisasi istilah Nasional, juga mempelopori menuntut Indonesia merdeka dengan istilah pemerintahan sendiri atau Zelf Bestuur pada 17-24 Juni 1916.
Kongres tersebut sangat meriah dan jauh lebih meriah daripada Algemene Vergadering Boedi Oetomo satahun sebelumnya pada 1915 yang sama-sama diselenggarakan di Kota Bandung.

Komentar
Posting Komentar