Poin pentingnya karena didasarkan pada ideologi Islam sebagai landasan kebangkitan Nasional.
Kemudian H.O.S Tjokroaminoto juga merumuskan dasar perjuangan dari Partai Sarekat Islam Indonesia haruslah berdasar pada Program Azas dan Tandhim. Dalam Tafsir Azas dan Program Tandhim Partai Sarekat Islam ditegaskan bahwa Program Islam itu adalah :
- Persatuan Umat Islam
- Kemerdekaan Nasional
- Pemerintahan Islam
- Khilafah fil ardh atau disebut kemerdekaan sejati atau Pan Islamisme Dunia.
Tahun 1921 diadakan kongres di Surabaya, memutuskan tentang perubahan baru pada arah pergerakan SI, yakni sentral SI diputuskan untuk diubah menjadi Partai Sarekat Islam Indonesia (PSII). Serta dalam Kongres ini diputuskan mengenai pengukuhan disiplin partai. Sehingga SI kubu komunis (SI Merah) yang dipimpin Soemaun secara organisatoris dikeluarkan dari tubuh SI kemudian mereka mengambil sikap balasan dengan mengadakan kongresnya di Bandung pada tanggal 4 Maret 1923. Yang dihadiri 14 cabang PKI dan 14 cabang SI Merah.
Tahun 1926 Soekarno dikeluarkan dari dan kemudian mendirikan PNI (Partai Nasional Indonesia) pada 1927, Seokarno diketahui oleh H.O.S Tjokroaminoto membuat karya tulis yang berisikan cita-citanya dan gagasannya mengenai ideologi Marxisme tentu hal ini bersebrangan dengan haluan ideologi Sarekat Islam.
Ideologi Marxisme yang dianut Soekarno dapat terlihat dari tulisannya di Harian Suluh Indonesia Muda. Berikut sebagian kecil petikan tulisannya.
“Islam yang sejati tidaklah mengandung azas anti-nasionalis, Islam yang sejati tidaklah bertabiat anti-sosialitis. Selama kaum Islamis memusuhi faham-faham Nasionalisme yang luas-budi dam Marxisme yang benar, selama itu kaum Islamis tidak berdiri di atas shirathol mustaqim.
Selama itu tidaklah ia bisa mengangkat Islam dari kenistaan dan kerusakan Tahad! Kita sama sekali tidak mengatakan yang Islam itu setuju pada Materialisme atau perbendaan, sama sekali tidak melupakan yang Islam itu melebihi bangsa, super-nasional. Kita hanya mengatakan, bahwa Islam yang sejati itu mengandung tabiat-tabiat yang sosialistis dan menetapkan kewajiban-kewajiban nasionalis pula!”


Komentar
Posting Komentar