Kemajuan teknologi dan informasi yang kian pesat membuat terjadinya akses internet tidak terbatas ruang dan waktu, tidak mengenal wilayah batas suatu negara dan semua umat manusia menjadi bagian dari manusia global.
Teknologi yang kian masif memperbaharui setiap peradaban tentu bukanlah sesuatu yang mudah mengelakkannya. Bahkan, hampir seluruh negara tidak mampu membendung arus kemajuan tersebut malah justru berlomba-lomba untuk menjadi negara yang memiliki keragaman kecanggihan teknologi.
Hal tersebut membuat peran pemuda dalam kehidupan sosial tampak lebih komplek dengan disuguhi teknologi bahkan merasa dunia dalam genggaman berdampak pada kehidupan sosial budaya yang telah lama dijunjung tinggi bangsa Indonesia.
Sosial budaya yang memiliki nilai-nilai norma dan moral tinggi tersebut kian hari, kian tergerus akibat pengaruh-pengaruh buruk dari kebebasan media informasi. Kandati demikian, media informasi bukanlah satu-satunya yang menyebabkan terjadi penurunan nilai moral di kalangan kaum muda.
Degradasi Nilai Moral Kaum Muda
Moral sebagai bentuk nilai dari baik buruknya perilaku seseorang dalam kehidupan sosial masyarakat selalu dijunjung tinggi dengan mengedepankan asas sopan santun. Sayangnya hal tersebut tidak lagi menjadi sesuatu yang dipelihara bahkan mengalami degradasi.
Degradasi nilai moral merupakan terjadinya penurunan atau kemerosotan akhlak dalam diri seseorang, termasuk kaum muda di dalamnya. Generasi muda, yang digadang-gadang sebagai pemimpin masa depan dan menjadi harapan bangsa nahasnya terjadi kekhawatiran dalam menjaga moralitas yang menjadi budaya bangsa.
Kekhawatiran bukan tanpa sebab, tentunya setelah realitas kehidupan telah mengantarkan kaum muda tidak menjunjung sopan santun dan tata krama yang menjadi nilai yang selama ini dipegang teguh oleh leluhur bangsa.
Faktor Terjadinya Degradasi Moral
Degradasi moral tersebut dipengaruhi oleh beberapa faktor sehingga kaum muda mengalami degradasi nilai moral diantaranya,
Pendidikan Keluarga
Pendidikan keluarga penting sekali dalam memberikan pembelajaran kepada anak untuk mengajarkan tata krama dan sopan santun. Seperti penyebutan kepada orang dewasa, bagaimana memperlakukan tamu, dan berteman dengan tetangga.
Peran orangtua dalam memberikan perhatian dan kasih sayang kepada anak sangat berpengaruh dalam perkembangannya dimasa muda mendatang. Orangtua beserta anggota keluarga lainnya, juga tentu saja harus menunjukan contoh yang juga menunjukkan moralitas yang tinggi. Terutama peran seorang Ibu.
Anak merupakan peniru yang baik, oleh karenanya apabila keluarga memberikan contoh yang buruk dalam bertutur kata, berperilaku dan persoalan menghargai orang lain maka secara tidak sadar anak akan meniru hal tersebut. Ibarat pepatah ayah kencing berdiri, anak kencing berlari.
Lingkungan Tempat Tinggal
Ketahuilah, selain rumah sebagai tempat tinggal utama kaum muda dalam belajar terhadap keluarganya, lingkungannya juga berpengaruh terhadap kondisi tumbuh kembangnya.
Terjadinya interaksi dengan masyarakat tempat tinggal akan membentuk suatu kebudayaan di daerah tersebut. Apabila, lingkungan tempat tinggal dipenuhi dengan perilaku tidak bermoral seperti mencuri, minuman keras bahkan narkoba maka besar kemungkinan untuk terpengaruh oleh lingkungan tersebut.
Budaya-budaya lingkungan yang tidak menjunjung nilai moralitas di suatu tempat akan membentuk mental kaum muda menjadi seperti demikian buruknya. Oleh karenanya, penting sekali peran masyarakat dalam mengendalikan moralitas kaum muda.
Lingkungan Pendidikan
Sekolah, Pondok Pesantren atau Kampus mungkin menjadi tempat yang aman untuk meneggakan nilai moral kaum muda. Sayang sekali, rupanya hal tersebut tidak menjadi sebuah jaminan bahwa seseorang benar-benar akan terlindung dari degradasi moral.
Pengaruh dilingkungan pendidikan bukan hanya karena peran guru dan kurikulum saja, ada di dalamnya siswa dan warga sekolah pada umumnya. Sehingga, kemungkinan degradasi moral juga bisa saja terjadi.
Ada banyak kasus yang terjadi degradasi moral di lingkungan pendidikan seperti yang viral di media sosial tik-tok seseorang murid yang menantang gurunya karena tidak terima dihukum karena telat. Ada pula contoh kasus seorang guru yang memperlakukan muridnya dengan tidak senonoh, bahkan ada pula murid yang membacok gurunya karena diberikan nilai ujian yang buruk. Tidak selesai disana, bullying juga terjadi dilingkungan sekolah dimana hal tersebut dilakukan oleh siswa terhadap siswa lainnya bahkan hingga meninggal dunia.
Teknologi Informasi
Teknologi informasi sebagaimana yang disebutkan diawal bahwa era disrupsi mengantarkan masyarakat dunia dapat mengakses informasi tanpa batas ruang dan waktu. Pertukaran sosial budaya dan pengetahuan kian masif sehingga tidak mudah membendung berbagai informasi negatif yang datang dari luar.
Disamping ketiga faktor sebalumnya, teknologi informasi menjadi faktor yang paling menentukan terjadinya degradasi moral. Media sosial yang ramai-ramai mempertontonkan kekerasan, seksual, pelecehan, dan perilaku-perilaku menyimpang dari nilai-nilai moral yang dipegang teguh masyarakat Indonesia bertahun-tahun lamanya.
Tidak sedikit kita mendapatkan banyak informasi penyimpangan yang bermula dari pengaruh teknologi informasi seperti penipuan, pelecehan seksual, bahkan yang terbaru saat ini perilaku judi online dianggap sebagai sesuatu yang normal. Sungguh hal tersebut merupakan perilaku yang berbahaya jika dibiarkan demikian.
Oleh karenanya, generasi muda harus benar-benar mengerti dan paham bahwa segala bentuk degradasi nilai moral yang marak terjadi di era disrupsi hendaknya dilawan dengan penggunaannya secara bijaksana dan selalu menyebarkan konten positif untuk generasi muda yang lebih baik.
.png)
Komentar
Posting Komentar